Saturday, January 13, 2007

Pukulan vs Time-out. Manakah yang lebih efektif ?

oleh : Taufan Surana





Akhir-akhir ini berita tentang kekerasan yang dilakukan oleh

orangtua kepada anaknya banyak muncul di media TV maupun

koran di Jepang. Hampir setiap hari, ada saja berita yang

memuat tentang anak yang dibawa ke rumah sakit dengan luka

berat, bahkan sampai meninggal gara-gara 'dihukum' oleh

orangtuanya. Dari bayi yang berusia beberapa bulan sampai

anak SD harus mengalami 'hukuman' dari orangtuanya.



Bayangkan, ada seorang bayi berusia 7 bulan meninggal karena

tidak diberi makan oleh orangtuanya selama beberapa hari.



Uniknya, pada saat ditangkap polisi dan diinterogasi, alasan para

orangtua tersebut semua SAMA, yaitu memberikan hukuman

karena anaknya tidak mau mengikuti apa yang dikatakan orangtua.

Atau menurut mereka, "MENGAJARKAN DISIPLIN kepada anaknya".



Di negara maju seperti Jepang saja (dimana telah diterapkan

Undang-Undang Perlindungan Anak) masih banyak kejadian

penyiksaan terhadap anak. Bagaimana dengan kita di Indonesia ?

atau dengan lingkungan kecil di sekitar kita sendiri ?



Dari hal-hal diatas tersebut, kita semua semakin menyadari bahwa

masih banyak orangtua yang salah dalam menerapkan atau

mengajarkan disiplin kepada anaknya. Sayangnya, para orangtua

tersebut tidak pernah menyadarinya, dan bahkan tidak pernah

berusaha untuk mempelajarinya.



Jika melihat hal ini, saya begitu salut dan hormat kepada anda yang

sangat peduli terhadap perkembangan buah hati anda.



Saya dan anda tentunya sudah menyadari sekali bahwa betapa

sulitnya menjadi orangtua yang baik itu. Hal yang paling sulit adalah

bagaimana kita sebagai orangtua bisa mengendalikan emosi kita

dalam mengasuh anak. Mungkin secara teori kita sudah banyak

belajar melalui buku-buku ataupun seminar tentang perkembangan

anak, tetapi begitu menghadapi anak kita yang 'nakal', hilanglah

semua teori itu dari kepala kita.



Apakah anda pernah mengalaminya ? Saya masih mengalaminya,

apalagi dengan semakin meningkatnya usia anak.



Ketidakmampuan kita mengendalikan emosi ini akhirnya muncul dalam

bentuk pukulan atau tindakan fisik terhadap anak kita.



Semua buku/informasi tentang cara mengajar disiplin kepada anak selalu

menekankan untuk tidak boleh memukul atau memberikan hukuman

fisik dalam melakukannya.



Memang, mudah dikatakan, tapi cukup sulit untuk diterapkan.

Jika anda sudah membaca eBook kami "3 Tahun Pertama yang

Menentukan", tentunya tahu bagaimana pengalaman saya terhadap

anak saya dalam hal hukuman fisik ini. Hukuman fisik justru bisa

menjadi 'permainan menarik' bagi anak, dan tidak mampu

mendisiplinkan anak.



Hasil penelitian menunjukkan pula bahwa anak balita masih belum

bisa memahami hubungan antara tindakannya yang

'nakal' (menurut orangtua) dengan pukulan yang diterimanya.

Anak HANYA merasakan sakit karena dipukul tanpa tahu kenapa

kok dipukul. Kalaupun si anak tidak lagi melakukan tindakan

'nakal'-nya itu, hal ini bukan karena dia menyadari kenakalannya,

tetapi lebih pada rasa takut akan dipukul lagi. Artinya, pukulan

tersebut sama sekali tidak bisa mendisiplinkan anak atas

kesadarannya sendiri !



Jadi, JANGAN PERNAH MEMUKUL !!!



Memukul tidak ada gunanya sama sekali bagi anak, KECUALI hanya

memuaskan emosi orangtua. Anda setuju ?



Dalam menghadapi sikap anak yang 'nakal' dan tidak disiplin atau

melanggar peraturan keluarga, para ahli perkembangan anak menyarankan

untuk memberikan TIME-OUT kepada anak. Time-out disini sebenarnya

kata halus untuk sebuah hukuman tetapi BUKAN hukuman fisik.



Time-out ini biasanya dalam bentuk menyuruh anak untuk duduk di sebuah

kursi atau masuk ruangan tertentu dalam waktu tertentu. Panjang

waktu yang paling efektif adalah disesuaikan dengan usia anak.

Misalnya, waktu time-out untuk anak usia 2 tahun adalah 2 menit,

untuk anak usia 3 tahun adalah 3 menit.



Jangan terlalu lama !



Time-out ini sangat efektif untuk menghukum anak yang suka memukul,

merusak barang atau berkelakuan di luar batas sopan santun yang

telah ditentukan oleh orangtua.



Setelah waktu time-out selesai, orangtua harus menjelaskan kenapa dia

dikenai time-out, dan kemudian menasehati tentang perbuatan yang

seharusnya dilakukan oleh anak.



Menasehati pada saat anak sudah tenang ini akan memberikan hasil

yang sangat efektif, dibandingkan dengan nasehat pada saat setelah

anak dipukul, apalagi pada saat anak menangis. Jadi, untuk

menasehati anak yang efektif itu memang perlu waktu yang tepat,

yaitu pada saat emosi anak sedang tenang. Menasehati (memarahi?)

anak sambil berteriak, ditambah lagi pada saat emosi anak tinggi

(mis. sedang menangis), sama sekali TIDAK akan membuahkan hasil

apapun !



Kembali lagi ke masalah time-out, yang perlu diingat adalah bahwa

time-out menjadi tidak efektif bila dilakukan terlalu sering atau

untuk kelakuan anak seperti misalnya hanya karena anak tidak mau

membereskan mainannya, dan sejenisnya.



Untuk mengajarkan disiplin tentang kelakuan anak seperti hal diatas,

atau mencegah ledakan kemarahan (temper tantrum) dan sejenisnya,

pemberian 'signal awal' kepada anak merupakan cara yang paling

efektif dari berbagai cara yang ada.



Hal inilah yang selalu kami terapkan kepada anak kami.

( Untuk detail masalah 'signal awal' dan permasalahan disiplin ini dapat

anda baca lebih lanjut di eBook 3 Tahun Pertama yang Menentukan. )



Untuk orangtua yang terlanjur mempunyai kebiasaan memukul, cara

yang cukup efektif untuk menghilangkan kebiasaan buruk ini adalah

dengan sesering mungkin membaca tulisan tentang tidak baiknya

memukul anak itu. Saya sendiri seminggu sekali selalu membaca artikel

yang sama tentang hal ini tanpa bosan-bosannya. Untuk yang tidak

punya artikel khusus, mungkin artikel ini bisa dimanfaatkan :)



Dengan membaca artikel seperti itu, kita akan diingatkan terus akan

keburukan memberikan hukuman fisik. Letakkan saja buku/artikel

tentang hal ini di atas meja kerja anda, dan pada saat waklu luang,

lihat-lihat sebentar sambil refreshing :) Mudah 'kan ?



Terakhir kali,

Mari kita galakkan upaya untuk selalu menghindari kekerasan di dalam

rumah tangga, demi masa depan buah hati kita tercinta dan masa

depan bangsa Indonesia !



Sebuah penelitian di Jepang menunjukkan bahwa remaja yang nakal

dan sering mengganggu orang lain ternyata sebagian besar mempunyai

latar belakang dimana pada masa kecilnya mereka sering mendapatkan

hukuman fisik dari orangtuanya.

Mengapa Anak Harus Mampu Membaca Ekspresi Wajah

oleh : Taufan Surana

�@

"Di sebuah keluarga, Adi (usia 5 tahun) tiba-tiba melemparkan mainan

yang sedang dipegangnya, sehingga adiknya yang terkena lemparan

menangis keras. Mama Adi yang melihat hal ini langsung menunjukkan

ekspresi wajah yang sedih bercampur marah di depan Adi tanpa

mengatakan sepatah katapun. Tetapi Adi sama sekali tidak menunjukkan

rasa bersalahnya, dan tetap melemparkan mainannya kesana-kemari."

�@

Apakah anda pernah melihat kejadian yang mirip dengan cerita diatas ?

�@

Mengapa Adi bersikap seperti itu ?

Ternyata Adi tidak bisa memahami dengan baik apa maksud dari ekspresi

wajah Mamanya.

�@

Pertanyaannya, perlukah anak seusia Adi mengerti apa maksud dari

setiap ekspresi wajah orang lain ?

�@

Sebuah grup di Universitas Delaware mengadakan penelitian panjang

terhadap anak usia pra-sekolah (usia 5 tahun) selama 4 tahun. Hasil

penelitian ini menunjukkan bahwa anak-anak yang mampu memahami

ekspresi wajah orang lain dengan baik ternyata lebih jarang mengalami

masalah dalam perilaku sosial maupun gangguan belajarnya.

�@

Inti dari penelitian ini adalah bahwa pemahaman emosional dan

kemampuan anak dalam mengatur emosinya sangat penting bagi anak

dalam menghadapi lingkungan sosialnya di masa depan. Istilah

populernya adalah, disamping IQ, EQ (Emotional Quotient / Kecerdasan

Emosi) juga merupakan faktor yang sangat penting dalam mendukung

kesuksesan anak di masa depan.

�@

Adalah tugas kita sebagai orangtua untuk mengajarkan kepada anak kita

tentang cara mengungkapkan perasaan yang sedang dialami oleh anak,

dan mengenal nama dari perasaan tersebut. Dengan demikian anak akan

menjadi mengerti perasaan orang lain dari ekspresi wajahnya. Anak yang

tidak bisa mengungkapkan perasaannya cenderung untuk berperilaku

kasar dalam bentuk kekerasan seperti memukul, melempar, dsb.

�@

Bagaimana cara mengajarkan hal ini kepada anak sejak dini ?

�@

Banyak cara yang bisa dilakukan, misalnya adalah :

�@
1.

Bercerita/mendongeng kepada anak tentang cerita yang berisi

berbagai ekspresi perasaan dari para pemeran dongeng tersebut.

Dalam bercerita ini anda perlu menunjukkan ekspresi tersebut

dengan sungguh-sungguh, sehingga anak dapat menangkap perasaan

yang ada di balik ekspresi wajah anda.
2.

Jika anda bisa menggambar berbagai ekspresi wajah seperti

tertawa, sedih, marah, dsb., anda bisa menggambarkannya di

setiap muka ujung jari, dan ketika mau tidur, anda bisa bercerita

sambil menunjukkan gambar tersebut. Setelah itu, anda tanyakan

kepada anak anda, misalnya, "Adi hari ini mengalami gambar yang

ada di jari mana ?".
3. Dan masih banyak lagi...

Bagi yang belum pernah menerapkannya....

Selamat Mencoba !